Senin, 09 April 2012

"Ironi penantian"

 berdiri ku menanti, keajaiban
yang kau beri..
aroma keindahan semerbak, menyuruk
dalam dada, sesak...
tapi ku terlena, tanpa daya dirundung
bahagia...

tersesat ku di kidung kelana, indah
memesona terpatri mati dalam dada...
entah..
senyum ini takkan berhenti terukir
mungkin.. andai sang waktu
tak melingkar, berputar...

layaknya janji nan di ingkari..
kau pergi tinggalkan caci maki
namun aku sadar..
anganku hanya mimpi yang
berputar-putar..

aku terbaring, lemah, tak bertenaga..
inikah sakit itu??
yang terselimut buncahan rindu
nan kelu...
aku terjatuh, rapuh, terkoyak
lusuh...
jalan kumuh nan rusuh ini masih
harus ku tempuh..
dalam ironi panjang penantian...

~VONIS untuk HATI_

Coretan ini mungkin sebuah takdir
penghias indahnya mimpi harapan
melambung, tinggi..
tak peduli..
muara keengganan raga

Sebuah contoh lukisan alam
yang terkelupas lalu mati
keindahan didalamnya bisu, pucat
bermain khayal diatasnya pun
percuma
membosankan..

Masihkah engkau menulis?
melukis lagi mungkin??
gerimis aliran kini menemani
pucat mentari maret,,

Seakan kunci-kunci Malik berpose
gemerincingnya menindas
tertutup bagiku padamu, never..
Kumpulan antologi tumpuk usang
pertanyaan semi teori..

Aku apa? atau aku siapa?
Aku ada untuk apa? atau untuk siapa?
Bagaimana?
Lalu?
, , , ?

Langit menghitam
hanya mendung yang berempati
"menarilah syazwani,,
tanpa rotasiku padamu"

Aku menjelma. . .

Add caption
( 20 Maret / 23.33 )

Pengikut